Belakangan ini kita dihadapkan dengan sesutau yang sering dibilang sebagai pesta demokrasi. Namun, apa yang terjadi di masyarakat hari ini? mungkin kita sedikit sekali melihat rasa toleransi terhadap perbedaan pendapat. Semua saling serang, saling tusuk dan apapun yang mereka katakan tidak jarang dengan inti untuk menjatuhkan.
Hampir seluruh lapisan masyarakat merayakan pesta demokrasi ini demi Indonesia yang lebih baik (katanya). Hal ini juga tidak luput dari pandangan berbagai macam kalangan, mulai dari pekerja, pelajar, seniman, idola dan publik figur. Dalam tulisan ini, saya akan lebih mengerucutkan kepada satu pandangan, yaitu publik figur, yang notabene memiliki banyak penggemar. Tulisan tidak bukan adalah apa yang saya tangkap dan saya lihat pada seorang publik figur yang saya ikuti dalam sosial media.
Tidak ada yang salah jika bersuara untuk (mungkin) kebenaran. Kenapa "mungkin"? saya juga manusia, gak bisa bilang, "ini benar" "ini salah". Bukan ragu untuk mengatakan, tapi itu masalah sudut pandang pribadi aja sih. Ok, kembali lagi, menjadi publik figur memang bukan pekerjaan yang mudah. Mereka memiliki fanbase besar, dibalik itu terdapat tanggung jawab yang besar dengan apa yang coba mereka lakukan dan katakan.
Ada 2 tipe penggemar, yang pertama adalah penggemar karya nya, lalu jelas baru ke siapa pelaku seni nya. Yang kedua adalah penggemar berat. Saya agak khawatir dengan tipe penggemar ke-2. Penggemar berat lebih cenderung melahap mentah - mentah semua apa yang sang idola lakukan. Misal, idola A berkata ini, terang perkataan idola ini akan ditiru oleh si penggemar. walaupun (mungkin) si penggemar tidak mengerti apa yang sang idola katakan (setidaknya mengerti dikit) mereka rela meniru ucapan - ucapan sang idolanya. tanpa memiliki pandangan dan argumen sendiri, mereka berani berkata. Lho kok berani? iya dong, kan setiap mengeluarkan komentar, selalu diikuti dengan nama idola. Saya sih gak bilang "cari perlindungan", tapi alangkah baik nya setiap komentar yang dilontarkan memiliki dasar sudut pandang pribadi. dan cobalah katakan itu dengan dirimu sendiri. Artinya tanpa harus kalian berkomentar lalu menulis nama idola kalian di belakangnya. Kebenaran gak datang dari siapa - siapa, perubahan gak datang dari siapa - siapa, sebelum kamu sendiri melakukannya.
Perubahan nyata adalah dengan memulainya pada diri sendiri, bukan berarti kita melupakan sekitar kita. Istilah simplenya begini, bagaimana mau merawat tanaman di taman, jika tanaman di rumah sendiri masih berantakan. Sayapun masih berantakan, belum tertata, maka dari itu saya lebih baik diam dari keramaian kampanye. Bukan berarti saya golput atau apatis terhadap pemerintahan, saya punya pilihan tapi saya diam. Misalkan saja, kalian ngotot si ini lebih baik, si itu lebih benar, sampai menjatuhkan orang lain akan tetapi di akhir, apa yang kalian pilih itu gak sesuai dengan apa yang kalian harapkan? gimana rasanya? coba sesekali desak pilihan kalian kalian. Kalo perlu ancam mereka dari sekarang agar tidak terlalu mengecewakan kalian nantinya. Lebih bagus lagi jika sesuai dengan harapan kalian. wow~! jangan terlalu sibuk menjatuhkan lawanmu, yakinkan harapan kalian tercapai lewat pilihan mu. Bukan malah keyakinan yang buta dan akhirnya harapan pudar dan terulang lagi luka yang sama (hihihi, semoga engga sih ya~)
Apa yang saya katakan dalam tulisan ini tidak ada niat untuk membela satu kubu atau menjatuhkan satu kubu. Jadi mohon maaf apabila ada dari kalian merasa tersinggung. Mari sama - sama belajar untuk masa depan yang lebih baik (semoga).
Farhan.