Minggu, 25 September 2016

Apasih Invisible Youth ?

Halo!
Akhirnya update lagi setelah ketiduran cukup lama (?) hehe. Kalo update, biasanya ada yang seru nih, tapi apa?

Jadi begini, akhirnya acara pertama yang bakal gua organisir insyaAllah akan diselenggarakan pada tanggal 15 Oktober 2016. Setelah beberapa kali mencari cari tempat, akhirnya sudah dipastikan Gana Studio lah yang bakal jadi tempat berlangsungnya acara ini, tentunya juga atas bala bantuan Bapak Rizkan dari Rizkan Records. Acara ini dinamakan, “Invisible Youth”. Wih, kalo pecinta variety show Korea, yang kebayang pertama adalah, “wah… Suzy…. Sunny….” Siapa lagi yhaa.. haha. Emang bener banget sih, pengambilan nama ini sengaja di pepetin dengan variety show tersebut. Bedanya tinggal digeser antara Invincible dan Invisible, gitu aja hehe.

Kalo diterjemahkan secara harfiah, Pemuda Tak Terlihat. Kok? Hehe. Jadi begini, Invisible Youth ini bakal gua rencanakan menjadi acara rutin. Jadi, gak hanya berhenti di volume pertama aja, tapi bakal ada yang kedua dan seterusnya. Band – band yang ditampilkan pun berpadu antara band yang sudah lama melintang dan juga band yang baru aja muncul dan butuh tempat untuk menunjukan musiknya. Jadi ya ini semacam tempat untuk para band yang mungkin sedikit kurang manggung. Kalo kata Prabu SNK, “Daripada manyun karena gak diajak manggung, mending berkarya”.

Dan untuk season pertama ini, bakalan ada 7 band yang akan main, siapa aja mereka? Untuk sekarang gua belum berani menyebutkan hehe. Karena satu persatu bakal di tampilin via instagram (@pratamafarhan). Atau nanti pun bakal gua sebutin di tulisan berikutnya.



Farhan

Rabu, 30 Maret 2016

Maret ke-25

Halo ~
Sebelum Maret berganti menjadi April, seperti biasa dan (sebenernya sih) mengejar target 1 tulisan setiap bulannya hehe, gua bakal bercerita tentang apa yang terjadi di bulan spesial ini (?) spesial? Bukan soal tentang pekerjaan yang telah gua dapat, melainkan, ini adalah kali ke-25 gua menyambangi bulan Maret ini.

Yap! Tanggal 23 yang lalu, gua resmi berumur 25, waaw seperempat abad (?) dan sepertinya, gua gak akan banyak cerita tentang itu. Yang baru dalam hidup gua telah terjadi di bulan ini. Di akhir umur 24, gua akhirnya resmi bekerja dalam perusahaan orang. Untuk beberapa orang, mungkin ini hal biasa, tapi engga bagi gua. Gua yang selalu mengajak teman – teman untuk membuat usaha sendiri, kini malah ikutan menjadi karyawan. Awalnya, alasan gua untuk mencari pekerjaan adalah biar gak nganggur – nganggur banget, hehe. Tapi seiring berjalannya waktu, gua merasa bahwa gua perlu belajar untuk memahami kondisi dalam dunia kerja. Bagi yang belum tau, gua menjalankan bisnis kecil – kecilan (kecil banget malah) di bidang vendor sejak 2011 namun baru fokus di tahun 2015. Yang namanya merintis usaha pasti ada pasang surut nya (gilaaa gaya omongan gua kayak udah merintis usaha selama 20 tahun aja) hahaha. Engga – engga, jadi suatu ketika gua berfikir, bahwa usaha gua gak bisa begini aja. Gua perlu membesarkan itu. Ketika semua sedang dalam masa kosong, gua mencoba untuk mencari sebuah pekerjaan. Dan alhamdulillah gua diterima disalah satu radio di daerah Grogol.

Sebenernya, gua terbilang beruntung, karena pekerjaan dalam radio lah yang gua impikan selama ini. Meskipun gua masuk dalam bidang Desain Grafis, tapi alhamdulillah gua masih bisa belajar dengan para Music Director, Music Producer, Mixman, Announcer dan lain – lainnya. Bener – bener pekerjaan yang gua mau. Sebelumnya mungkin gua gak bermimpi bekerja sebagai seorang desainer grafis, karena latar pendidikan yang mungkin bisa dibilang beda namun masih satu akar. Gua pernah ditawarkan untuk menjadi art director disalah satu rumah produksi. Tapi tawaran itu gak jelas kemana saat gua bilang, “iya, saya mau” (mau aapaaa!???) Hahaha.

Lalu, bagaimana dengan usaha kecil gua yang sepertinya di kesampingkan ini? Kalo bilang dikesampingkan, kayaknya engga juga. Radrace (nama studio kecil milik gua) masih tetap berjalan. Tetap menerima pesanan dalam jumlah satuan maupun lusinan. Meskipun jam kerjanya agak sedikit dikurangi, tapi gua pasti akan kembali fokus dan membesarkan Radrace, itu pasti! Hehe.

Ini adalah tahun ke-25, mungkin gua bakal berubah.... menjadi Farhan. Hahaha. Semoga bisa bertemu Maret di tahun – tahun berikutnya dan bisa bermanfaat buat orang banyak, (cie gitu) hehe.

Farhan.

Senin, 29 Februari 2016

Fatrace Bali Tour 2016

Banyak cara yang dilakukan oleh sebuah band untuk mempromosikan musiknya. Salah satu yang lumrah ialah melakukan tur. Tur ini bertujuan untuk mengenalkan band dan musiknya. Bisa dibilang, tur adalah suatu yang wajib dilakukan bagi setiap band. Akan tetapi, melakukan tur gak semudah apa yang dilihat. Sebuah tur akan memakan banyak proses.

Alhamdulillah, Fatrace akhirnya bisa melakukan tur ke Bali pada pertengahan Februari yang lalu. Demi memperkenalkan Fatrace dan EP barunya, kami menabung dan mencari teman untuk melakukan tur ini. Sebelum EP ini resmi dirilis, gua dan Fatrace merencanakan tur ke 2 Kota yakni, Solo dan Bali. Namun Solo urung dilaksanakan karena venue yang di rencanakan sedang dalam renovasi dan pihak sana enggan untuk mencarikan venue baru. setelah usaha pendekatan beberapa kali dilakukan, hasil tak digubris. Mau gimana lagi? Fatrace bukan band besar dan lagunya gak enak, jadi kami gak bisa melakukan apa-apa lagi, hehe.

Berbeda dengan Bali, kami sangat beruntung bisa diberi kesempatan untuk bisa tampil di 2 tempat. Sebelumnya, kami hanya resmi untuk tampil di 1 tempat. Eko Ramone dari The Sneakers merubah itu semua. Dia memasukan nama Fatrace untuk tampil bersama di sebuah bar di Canggu. Akhirnya, kami resmi untuk menambah jadwal tampil 7 hari sebelum keberangkatan.

17 Februari 2016, Broadcast Bar.
Jadi pemberhentian pertama di Bali. Di apit oleh band-band keren lainnya, Fatrace gak bakal mau mengecewakan mas Eko selaku orang dibalik bisa nya kami main di tempat ini. 3 band sebelum kami yakni, Racun Timur Menggoda, Superstar Superfuck dan Airplane And The Stars membuka Bar dengan meriah. Sangat gila! musik mereka hampir masing-masing berbeda namun crowd tetap ramai. Dan ketika giliran itu datang kepada kami, sangat kaget, karena ini pertama kalinya kami main di Bali dan sambutan mereka sangat gila. Tampil sebelum band utama (The Sneakers), membuat gua pribadi agak sedikit nervous dan ingin segera menyelesaikan set agar teman-teman yang hadir bisa cepat melihat The Sneakers tampil. 25 menit yang tersedia hanya kami habiskan sekitar 17 menit dengan 9 lagu.

18 Februari, Twice Bar.
Saat kami sedang bersiap tampil di Broadcast Bar, datang berita mengejutkan dari pemilik instagram bernama @jrxsid yang juga pemilik dari Twice Bar. Dalam postingan instagramnya ia berkata bahwa Twice akan tutup. terkejut, karena kami gak tau bagaimana gigs besok yang akan dilangsungkan di Twice? apakah batal? Pertanyaan itu terjawab ketika mas Eko selaku mantan pegawai Twice yang berkata bahwa The Sneakers akan ikut berpartisipasi dalam acara besok dengan Fatrace. Berbeda dengan kata-kata mas Eko, pengelola Twice belum menurunkan pamflet acara hingga akhirnya jam 6 siang pamflet itu turun. Dalam acara itu kami berbagi panggung dengan Hasta La Vista, Monarchy Of Rose dan The Sneakers. Bahagia sudah pasti, karena salah satu mimpi untuk bermain di bar ini pun tercapai. Pasti sudah banyak yang tampil di bar ini. Bar yang menghasilkan banyak band bawah tanah di Bali. Fatrace dan gua pribadi sangat senang pernah bermain di tempat ini. Twice mungkin akan tutup, tapi semangat mereka untuk memberikan ruang kepada band-band kecil akan terus ada dan menyebar kepada setiap pelaku musik.

Yang paling berharga dalam pelaksanaan tur adalah, banyaknya teman yang kita dapat. Bisa kenal dengan teman-teman baru adalah suatu kebahagian tersendiri. Kami sangat senang bisa bertemu dengan teman-teman baru, teman-teman musisi hebat seperti mas Eko Ramone dan The Sneakers, dan teman-teman band lainnya. Banyak juga pelajaran yang di dapat. Setuju dengan perkataan mas Eko bahwa, "mungkin tempat ini kecil, tapi fun nya besar. Biarlah band yang besar tetap disana, dan kita disini sama-sama mencari ruang untuk musik kita sendiri". Karena goal dari bermain musik bukanlah berfoto diatas panggung dengan latar crowd penonton yang belum tentu juga kenal kalian, hehe. Gua lebih menyukai apa yang dilakukan oleh Jo Se Ho, komedian asal Korea Selatan yang melakukan fan meeting di Taiwan. Yang ia lakukan setelah acara selesai adalah memotret seluruh crowd dari tangkapan kameranya sendiri dan mencetak nya diatas kaos lalu memakainya di sebuah variety show, hehe. Kurang nyambung? ya itu gimana kalian aja menanggapinya hehehe.


Terimakasih Bali atas pengalaman dan ceritanya. Semoga bisa cepat kesana lagi. Dan semoga perlawanan terhadap penguasa yang rakus bisa mencapai kemenangan. Buat apa mereklamasi kalau hanya untuk demi menyerupai negara lain. Bali Tolak Reklamasi!

Farhan

Rabu, 03 Februari 2016

Berisik! Dan Sebuah Perubahan

Hay!

Beberapa waktu lalu, gua dan Fatrace akhirnya bisa mencicipi panggung pertama. Kesempatan itu datang dari sebuah acara studio gigs bernama, Berisik!. Acara yang digagas oleh frontman dari band Rejected Kids yakni Petir Saputra ini memasuki jilid ke-3. Bertemakan studio gigs, bukan berarti dapat mengalahkan semangat gigs pada umumnya. Terbukti dengan penampilan 10 band pada malam itu terasa sangat berbeda. Jika pada acara pada umumnya kita hanya mampu mendengar 2 lagu dari setiap penampil, aturan itu tak berlaku dalam acara ini. Hampir setiap band membawa lembar setlist masing – masing, dimana sedikit nya mereka membawakan 5 lagu.

Hal yang sangat gua suka dari acara ini adalah semangat dan kekompakan pendukung acara. Sesuatu yang belum gua temukan di tempat gua sendiri. Atau mungkin memang gua yang gak masuk dengan pergaulan disini? Entahlah, hehe. “Persamaan adalah omong kosong, setiap acara selalu menampilkan band yang sama, gak ada kesempatan untuk yang baru untuk muncul ke permukaan” petikan dari Petir yang sepertinya menjadi salah satu alasan kuat dibuatnya acara ini. Petir sendiri adalah frontman dari sebuah band punk rock bernama Rejected Kids. Band yang cukup banyak dikenal oleh para penikmat musik.


Membuat acara sendiri adalah cara yang tepat untuk membantu sebuah band baru untuk maju dan berkembang. Namun hal itu tidak bisa terlepas dari konsep acara tersebut. Jika kita mampu mengemasnya dengan baik, maka dampak positif yang diterima akan lebih banyak. Seperti apa yang dilakukan oleh Petir untuk membuat acara ini. Gua pribadi juga berharap agar bisa membuat acara seperti ini di tempat dimana gua tinggal. Karena konsep acara seperti ini harus di budidayakan, sehingga dapat melupakan konsep lama seperti contoh membuat acara dengan puluhan band yang berujung dengan tidak terkordinir dengan baik karena hanya menguntungkan beberapa pihak.

Acara seperti ini harus rutin dilaksanakan guna memberikan ruang kepada band – band baru untuk muncul ke permukaan. Dan itu semua kembali lagi kepada pihak band yang juga harus berkontribusi langsung kepada kolektif tersebut sehingga lebih banyak kolektif yang lahir dan tumbuh membangun skena nya secara mandiri.

Farhan.

Senin, 11 Januari 2016

Jalan - Jalan Naik KRL

Halo!
Farhan disini.
Hari ini tanggal 12 Januari. Hari ke-12 di bulan pertama. Ada apa yang spesial? Engga ada sih sepertinya. Cuacanya asik, iya bener, di sini sedang hujan. Walaupun tadi pagi cukup panas. Gua pikir bisa menjemur screen berkali – kali lagi hari ini. Apa yang seru untuk dibahas kali ini?

Oh..ya!
Hari ini adalah jadwalnya menjemput kaset EP-nya Fatrace. Sebenernya kaset itu udah lama selesai di duplikasi, tapi baru sempet diambil, hehe. Bukaaaan! Bukan karena baru bayar, hehe. Tapi jadwal lah yang mengharuskan kami untuk bertemu kaset-kaset tersebut. Sepertinya, tulisan kali ini gak akan seperti biasanya. Kalo biasanya, gua bahas bagaimana perkembangan Fatrace, kali ini gua bakal coba ambil dari sudut lain, tapi masih dari Fatrace.

Hari ini gua akan bertemu dengan salah seorang temen yang baik banget udah mau ngurusin duplikasinya Fatrace. Kami janjian di salah satu stasiun di daerah Serpong. (Wah stasiun?). Yap! Hari ini gua bakal melakukan perjalanan dengan menggunakan KRL. Whaaaa.. Lama sudah gak menggunakan jasa transportasi ini. Gua selalu merasakan ada yang beda ketika gua menggunakan jenis transportasi ini. Engga tau pasti, apa dan dimana perbedaannya. Yang jelas, ketika naik transportasi ini, gua selalu merasa jauh sekali dari rumah. Mungkin karena biasa menggunakan kendaraan pribadi, jadi merasa tujuan kita pasti dan bisa di capai. Berbeda dengan menggunakan KRL yang selalu merasa, “biasa sampe rumah nih? Beneran?” entah itu apa namanya, tapi yang jelas gua akan berkutat dengan suasana stasiun di sore hari, di hari ini.

Yang gua siapkan hanya, menghafal jalurnya dan mengetahui dimana gua harus turun untuk berpindah KRL. Ini penting ternyata. Karena kalo engga hafal dan kita terlewat dari stasiun yang harusnya kita turun, kita bener-bener bakal merasa jauh dari rumah dan bakal merasa bahwa besok gak ada lagi matahari. Ya gak sih? Engga juga kayaknya. Tapi beneran, menghafal jalur itu penting. Seenggaknya kita tau dimana kita harus turun dan kepada siapa kita harus sayang (?). ok. Iya.

Tapi naik KRL juga ada sisi serunya. Serunya dimana? Naik KRL dengan jalur yang gak deket itu seru, kayak jalan-jalan tanpa harus mikirin macet. KRL menurut gua salah satu transportasi yang asik untuk digunakan. Jauuuuuuuuh lebih baik jika harus dibandingkan dengan naik bis. Apalagi bis yang, “bis kadit nih?” ok.

Segitu ajalah cerita tentang opini gua tentang perjalanan menggunakan KRL. Padahal berangkat aja juga belum, haha! Mungkin nanti gua bakal nulis lagi setelah melakukan perjalanan. Mungkin iya, mungkin engga. Hehe. Semoga gua gak kelewatan stasiun dan kaset yang gua jemput bisa laku terjual, heheheeeheheheheheheehe.......

Farhan