Ini adalah sebuah karya yang menurut gua sangat niat, kenapa? Karena gua harus pergi dari Cakung menuju Ciledug untuk merekam podcast ini. Kenapa harus ke Ciledug? Karena saat itu gua baru banget mulai podcast, dan gua juga ga memiliki alat lengkap (kecuali home studio di rumah gua). Jadilah gua berangkat ke Ciledug berharap bisa merekam dengan tenang di kamar teman gua tanpa ada gangguan suara yang masuk ke dalam rekaman saat itu.
Aktivitas ini berlangsung seru, meski hanya bertahan 3 episode. Saat itu gua liburan sejenak, jadi harus berhenti dulu. Ternyata berhenti nya ini keterusan hingga Februari / Maret (gua lupa), kami mulai lagi Poska! Season ke-2 dengan menambah 1 personil. Lokasi di season ke-2 ini berubah yang awalnya di Ciledug, sekarang pindah ke Menteng. Taman Menteng tepatnya, iya bener kalo lu ada yang nebak di lapangan futsalnya! Namun take season ke-2 episode pertama juga menjadi episode terakhir, karena aktivitas personil lainnya yang mulai padat. Berhentinya Poska! Membuat gua ingin maju sendiri, saat itu sih masih takut dan kayak belum percaya diri aja. Ternyata semua berubah, akhirnya gua memulai perjalanan podcast gua sendiri.
Memulai The Farhan Show!
Juni, jam 2 pagi gua merekam episode pertama The Farhan Show, yang saat itu ada Softcrime di studio gua, langsung aja mereka jadi tamu pertama meskipun gak bersama drummer mereka, Echa. Ternyata urat malas gua ini cukup menyita waktu banget, hingga gua baru merilisnya di Agustus 2018. TAPI…… di dalam tenggang waktu tersebut (dari Juni ke Juli) gua sudah menabung 2 episode lainnya. 2 tamu tersebut gua datangin langsung ke Sukoharjo… halo~ iya Sukoharjo sana dekat Surakarta~ Solo~ Hay Solo~
Aktivitas ini berlangsung seru, meski hanya bertahan 3 episode. Saat itu gua liburan sejenak, jadi harus berhenti dulu. Ternyata berhenti nya ini keterusan hingga Februari / Maret (gua lupa), kami mulai lagi Poska! Season ke-2 dengan menambah 1 personil. Lokasi di season ke-2 ini berubah yang awalnya di Ciledug, sekarang pindah ke Menteng. Taman Menteng tepatnya, iya bener kalo lu ada yang nebak di lapangan futsalnya! Namun take season ke-2 episode pertama juga menjadi episode terakhir, karena aktivitas personil lainnya yang mulai padat. Berhentinya Poska! Membuat gua ingin maju sendiri, saat itu sih masih takut dan kayak belum percaya diri aja. Ternyata semua berubah, akhirnya gua memulai perjalanan podcast gua sendiri.
Memulai The Farhan Show!
Juni, jam 2 pagi gua merekam episode pertama The Farhan Show, yang saat itu ada Softcrime di studio gua, langsung aja mereka jadi tamu pertama meskipun gak bersama drummer mereka, Echa. Ternyata urat malas gua ini cukup menyita waktu banget, hingga gua baru merilisnya di Agustus 2018. TAPI…… di dalam tenggang waktu tersebut (dari Juni ke Juli) gua sudah menabung 2 episode lainnya. 2 tamu tersebut gua datangin langsung ke Sukoharjo… halo~ iya Sukoharjo sana dekat Surakarta~ Solo~ Hay Solo~
Seru aja sih ngobrol dengan orang – orang yang menurut gua punya peranan di sebuah bidang, apapun itu. Mulai bidang musik, gambar dan lainnya. Memang pada dasarnya, gua adalah orang yang jarang banget nongkrong. Jarang sekali main, pulang larut dan sebagainya. Tapi gua suka ngobrol, dari situlah tercetus ide untuk membuat podcast. Inget banget, podcast pertama yang gua inget adalah Suara Suburbia milik Azis dan Iksan dari Failing Forward. Podcast gila 2 kota di 2 negara itu lah yang membuat gua kagum saat itu. Karena gimana gak gila? Mereka merekam di 2 kota di Negara yang berbeda, Jakarta – London tapi masih bisa berkarya. Salut!
Berangkat dari podcast situlah gua awalnya membuat podcast bernama Poska! Dengan konsep berdua dengan teman gua Isoy dan membicarakan drama – drama sehari hari. Lanjut di The Farhan Show, solo podcast gua yang awalnya bener – bener konsepnya ngomongin tentang musik dan bidang seni lainnya.
Oya! Lucunya, waktu gua merekam The Farhan Show episode ke-2 (Juli 2018), seseorang bilang, “haha kayak Soleh Solihun interview ini ya?” jujur saat itu gua tahu acara itu, tapi sama sekali ga menghiraukan, kenapa? Jelas bedanya dalam konsep beliau ada unsur visual.
Tapi diluar itu, konsep basic nya sama, yakni interview yang di rekam dan diperdengarkan secara luas. Lantas, masihkah bisa dibilang meniru? kalau begitu apakabar pembuat konten lainnya di dunia maya yang luas ini? Entah.
Hidup adalah repetisi, sama halnya seperti manusia, manusia adalah karya hasil dari pengulangan.
