Sabtu, 29 Agustus 2020

Podcast? Hmm..

Kesenggangan gua di tahun 2017, membuahkan sebuah obrolan terencana yang gua rekam melalui ponsel pintar. Rekaman itu bernama Poska! Podcast Suka – Suka.
Ini adalah sebuah karya yang menurut gua sangat niat, kenapa? Karena gua harus pergi dari Cakung menuju Ciledug untuk merekam podcast ini. Kenapa harus ke Ciledug? Karena saat itu gua baru banget mulai podcast, dan gua juga ga memiliki alat lengkap (kecuali home studio di rumah gua). Jadilah gua berangkat ke Ciledug berharap bisa merekam dengan tenang di kamar teman gua tanpa ada gangguan suara yang masuk ke dalam rekaman saat itu.
Aktivitas ini berlangsung seru, meski hanya bertahan 3 episode. Saat itu gua liburan sejenak, jadi harus berhenti dulu. Ternyata berhenti nya ini keterusan hingga Februari / Maret (gua lupa), kami mulai lagi Poska! Season ke-2 dengan menambah 1 personil. Lokasi di season ke-2 ini berubah yang awalnya di Ciledug, sekarang pindah ke Menteng. Taman Menteng tepatnya, iya bener kalo lu ada yang nebak di lapangan futsalnya! Namun take season ke-2 episode pertama juga menjadi episode terakhir, karena aktivitas personil lainnya yang mulai padat. Berhentinya Poska! Membuat gua ingin maju sendiri, saat itu sih masih takut dan kayak belum percaya diri aja. Ternyata semua berubah, akhirnya gua memulai perjalanan podcast gua sendiri.

Memulai The Farhan Show!
Juni, jam 2 pagi gua merekam episode pertama The Farhan Show, yang saat itu ada Softcrime di studio gua, langsung aja mereka jadi tamu pertama meskipun gak bersama drummer mereka, Echa. Ternyata urat malas gua ini cukup menyita waktu banget, hingga gua baru merilisnya di Agustus 2018. TAPI…… di dalam tenggang waktu tersebut (dari Juni ke Juli) gua sudah menabung 2 episode lainnya. 2 tamu tersebut gua datangin langsung ke Sukoharjo… halo~ iya Sukoharjo sana dekat Surakarta~ Solo~ Hay Solo~ 
Seru aja sih ngobrol dengan orang – orang yang menurut gua punya peranan di sebuah bidang, apapun itu. Mulai bidang musik, gambar dan lainnya. Memang pada dasarnya, gua adalah orang yang jarang banget nongkrong. Jarang sekali main, pulang larut dan sebagainya. Tapi gua suka ngobrol, dari situlah tercetus ide untuk membuat podcast. Inget banget, podcast pertama yang gua inget adalah Suara Suburbia milik Azis dan Iksan dari Failing Forward. Podcast gila 2 kota di 2 negara itu lah yang membuat gua kagum saat itu. Karena gimana gak gila? Mereka merekam di 2 kota di Negara yang berbeda, Jakarta – London tapi masih bisa berkarya. Salut! Berangkat dari podcast situlah gua awalnya membuat podcast bernama Poska! Dengan konsep berdua dengan teman gua Isoy dan membicarakan drama – drama sehari hari. Lanjut di The Farhan Show, solo podcast gua yang awalnya bener – bener konsepnya ngomongin tentang musik dan bidang seni lainnya. 
Oya! Lucunya, waktu gua merekam The Farhan Show episode ke-2 (Juli 2018), seseorang bilang, “haha kayak Soleh Solihun interview ini ya?” jujur saat itu gua tahu acara itu, tapi sama sekali ga menghiraukan, kenapa? Jelas bedanya dalam konsep beliau ada unsur visual.
Tapi diluar itu, konsep basic nya sama, yakni interview yang di rekam dan diperdengarkan secara luas. Lantas, masihkah bisa dibilang meniru? kalau begitu apakabar pembuat konten lainnya di dunia maya yang luas ini? Entah. 
Hidup adalah repetisi, sama halnya seperti manusia, manusia adalah karya hasil dari pengulangan. 

Love, Farhan.

Senin, 12 Maret 2018

Super Star Destroyer: Lagu Lama Rasa Baru

Sebenarnya gak ada alasan untuk kamu penyuka musik dan suka nulis lagu untuk berkarya lebih dari apa yang udah kamu lakukan di sebuah band. Itulah menjadi alasan gua untuk semangat membuat proyek musik kecil baru.

Ini seru sih, jadi beberapa bulan lalu gua merilis sebuah lagu solo tapi tetap dalam format band. Lalu beberapa bulan berikutnya, lagu proyek solo gua kembali dirilis tapi kali ini Geekmonger Records yang merilisnya. Dari situlah gua berpikir untuk membentuk band baru, tapi pasti gak akan gampang. Karena Fatrace masih jauh buat dibilang band "jadi" alias masih banyak yang harus dikerjakan dan gua sendiri pun gak mau berurusan dengan drama - drama baru dalam sebuah band, akhirnya yaudah, jadi aja proyek baru yang gua kerjakan sendiri, tapi memakai nama band.
Super Star Destroyer gua pilih karena pertama, dikasih ide oleh seseorang teman, awalnya aneh juga, tapi setelah dipikir ulang dan melihat bagaimana konsep musik yang gua mainkan, kayaknya keren aja untuk dijadikan sebuah nama band. Orang mungkin gak akan nyangka kalo cuma mendengar dari namanya aja, mungkin akan terbantu jika melihat artwork nya nanti.
Untuk konsep musiknya sendiri, gua banyak mendengarkan lagu pop 60an, bahkan sebelum Fatrace. Dan jujur memang, konsep seperti ini pernah mau gua jadikan untuk gambaran bagaimana Fatrace selanjutnya, tapi Fatrace terasa lebih seru ketika materi - materi baru terkumpul. Total ada sekitar 7-8 lagu yang Dito tulis untuk rilisan Fatrace selanjutnya. Jadi sedikit kebayang bagaimana perbedaannya nanti hehe..
Dalam seminggu yang lalu, awal Maret tepatnya, gua selalu lebih memilih pulang cepat dan menghabiskan malam di kamar untuk merekam 4 lagu yang gua rencanakan bakal dirilis dalam bentuk EP berformat digital. Hari ini, 1 April 2018 gua merilis sebuah single nya terlebih dulu yang berjudul "Let You Know", dimana ini adalah lagu pertama yang gua buat untuk proyek ini setelah "I Wish I Was" (gua buat di bulan Mei 2017).

Semoga kalian suka dengan musik yang dibawakan oleh Super Star Destroyer ini. Dan tunggu EP nya rilis hehe.

Farhan


Minggu, 30 Juli 2017

EP Terbaru Fatrace, "Millennials Heartbreaker"

Setelah menunda hampir setahun, Fatrace akhirnya kembali merilis sebuah EP berjudul, "Millennials Heartbreaker". Begitu lama waktu penundaan bukanlah perkara sepele, beberapa hal yang harus kami pikirkan ulang menjadi sebab utama dalam perilisan EP ini.
EP pertama, "Don't Tell Your Mom, I'm Fat" dirilis pada bulan Januari 2016, kemudian single, "You're The Most" di rilis bulan Agustus 2016. Pada bulan tersebut, kami juga merekam materi untuk EP ke-2. Pengerjaan pun selesai, tawaran dari sebuah label Bandung, Geekmonger Records untuk mengisi line up pada sebuah album kompilasi datang, setelah kami sodorkan 2 lagu terbaru, Prabu selaku pemilik Geekmonger ternyata sangat suka dengan materi baru kami yang berjudul, "Bersepeda Berdua". Setelah melakukan pembicaraan, ternyata Geekmonger tertarik untuk merilis EP kami.
Saya pribadi mengerti bagaimana pentingnya Geekmonger bagi sebuah band seperti Fatrace. Geekmonger sangat mendukung pergerakan band pop-punk Indonesia. Dari pemikiran itu, akhirnya terjadilah pembicaraan intern dalam Fatrace. Kami sepakat untuk membuat materi-materi baru yang lebih "matang" untuk dirilis oleh mereka. Kami mulai untuk mengumpulkan beberapa materi baru dan menyaringnya menjadi 4 lagu. Lalu memilih Teargas Lab sebagai tempat untuk merekam sesi drum Egi dan sisanya kami kerjakan sendiri di studio saya, Chugga-Chugga Studio.
Secara musik, saya bisa memastikan bahwa album ini akan lebih baik dari album sebelumnya. Kami mendengarkan band-band bagus dan menuangnya dalam materi-materi baru ini. Kami mulai memasukan unsur-unsur back vokal ala doo-wop dan mengemas perlagu dengan se-simpel mungkin. Namun pada sisi tema lirik, album ini belum (ingin) berubah dari album sebelumnya.
EP ini akan dirilis oleh Geekmonger Records, 13 Agustus 2017.


MILLENNIALS HEARTBREAKER
tracklist:
1. Moguri Dance
2. Pandangan Ke-5
3. 7012
4. Bersepeda Berdua
5. You're The Most (Bonus)

Minggu, 25 September 2016

Apasih Invisible Youth ?

Halo!
Akhirnya update lagi setelah ketiduran cukup lama (?) hehe. Kalo update, biasanya ada yang seru nih, tapi apa?

Jadi begini, akhirnya acara pertama yang bakal gua organisir insyaAllah akan diselenggarakan pada tanggal 15 Oktober 2016. Setelah beberapa kali mencari cari tempat, akhirnya sudah dipastikan Gana Studio lah yang bakal jadi tempat berlangsungnya acara ini, tentunya juga atas bala bantuan Bapak Rizkan dari Rizkan Records. Acara ini dinamakan, “Invisible Youth”. Wih, kalo pecinta variety show Korea, yang kebayang pertama adalah, “wah… Suzy…. Sunny….” Siapa lagi yhaa.. haha. Emang bener banget sih, pengambilan nama ini sengaja di pepetin dengan variety show tersebut. Bedanya tinggal digeser antara Invincible dan Invisible, gitu aja hehe.

Kalo diterjemahkan secara harfiah, Pemuda Tak Terlihat. Kok? Hehe. Jadi begini, Invisible Youth ini bakal gua rencanakan menjadi acara rutin. Jadi, gak hanya berhenti di volume pertama aja, tapi bakal ada yang kedua dan seterusnya. Band – band yang ditampilkan pun berpadu antara band yang sudah lama melintang dan juga band yang baru aja muncul dan butuh tempat untuk menunjukan musiknya. Jadi ya ini semacam tempat untuk para band yang mungkin sedikit kurang manggung. Kalo kata Prabu SNK, “Daripada manyun karena gak diajak manggung, mending berkarya”.

Dan untuk season pertama ini, bakalan ada 7 band yang akan main, siapa aja mereka? Untuk sekarang gua belum berani menyebutkan hehe. Karena satu persatu bakal di tampilin via instagram (@pratamafarhan). Atau nanti pun bakal gua sebutin di tulisan berikutnya.



Farhan

Rabu, 30 Maret 2016

Maret ke-25

Halo ~
Sebelum Maret berganti menjadi April, seperti biasa dan (sebenernya sih) mengejar target 1 tulisan setiap bulannya hehe, gua bakal bercerita tentang apa yang terjadi di bulan spesial ini (?) spesial? Bukan soal tentang pekerjaan yang telah gua dapat, melainkan, ini adalah kali ke-25 gua menyambangi bulan Maret ini.

Yap! Tanggal 23 yang lalu, gua resmi berumur 25, waaw seperempat abad (?) dan sepertinya, gua gak akan banyak cerita tentang itu. Yang baru dalam hidup gua telah terjadi di bulan ini. Di akhir umur 24, gua akhirnya resmi bekerja dalam perusahaan orang. Untuk beberapa orang, mungkin ini hal biasa, tapi engga bagi gua. Gua yang selalu mengajak teman – teman untuk membuat usaha sendiri, kini malah ikutan menjadi karyawan. Awalnya, alasan gua untuk mencari pekerjaan adalah biar gak nganggur – nganggur banget, hehe. Tapi seiring berjalannya waktu, gua merasa bahwa gua perlu belajar untuk memahami kondisi dalam dunia kerja. Bagi yang belum tau, gua menjalankan bisnis kecil – kecilan (kecil banget malah) di bidang vendor sejak 2011 namun baru fokus di tahun 2015. Yang namanya merintis usaha pasti ada pasang surut nya (gilaaa gaya omongan gua kayak udah merintis usaha selama 20 tahun aja) hahaha. Engga – engga, jadi suatu ketika gua berfikir, bahwa usaha gua gak bisa begini aja. Gua perlu membesarkan itu. Ketika semua sedang dalam masa kosong, gua mencoba untuk mencari sebuah pekerjaan. Dan alhamdulillah gua diterima disalah satu radio di daerah Grogol.

Sebenernya, gua terbilang beruntung, karena pekerjaan dalam radio lah yang gua impikan selama ini. Meskipun gua masuk dalam bidang Desain Grafis, tapi alhamdulillah gua masih bisa belajar dengan para Music Director, Music Producer, Mixman, Announcer dan lain – lainnya. Bener – bener pekerjaan yang gua mau. Sebelumnya mungkin gua gak bermimpi bekerja sebagai seorang desainer grafis, karena latar pendidikan yang mungkin bisa dibilang beda namun masih satu akar. Gua pernah ditawarkan untuk menjadi art director disalah satu rumah produksi. Tapi tawaran itu gak jelas kemana saat gua bilang, “iya, saya mau” (mau aapaaa!???) Hahaha.

Lalu, bagaimana dengan usaha kecil gua yang sepertinya di kesampingkan ini? Kalo bilang dikesampingkan, kayaknya engga juga. Radrace (nama studio kecil milik gua) masih tetap berjalan. Tetap menerima pesanan dalam jumlah satuan maupun lusinan. Meskipun jam kerjanya agak sedikit dikurangi, tapi gua pasti akan kembali fokus dan membesarkan Radrace, itu pasti! Hehe.

Ini adalah tahun ke-25, mungkin gua bakal berubah.... menjadi Farhan. Hahaha. Semoga bisa bertemu Maret di tahun – tahun berikutnya dan bisa bermanfaat buat orang banyak, (cie gitu) hehe.

Farhan.

Senin, 29 Februari 2016

Fatrace Bali Tour 2016

Banyak cara yang dilakukan oleh sebuah band untuk mempromosikan musiknya. Salah satu yang lumrah ialah melakukan tur. Tur ini bertujuan untuk mengenalkan band dan musiknya. Bisa dibilang, tur adalah suatu yang wajib dilakukan bagi setiap band. Akan tetapi, melakukan tur gak semudah apa yang dilihat. Sebuah tur akan memakan banyak proses.

Alhamdulillah, Fatrace akhirnya bisa melakukan tur ke Bali pada pertengahan Februari yang lalu. Demi memperkenalkan Fatrace dan EP barunya, kami menabung dan mencari teman untuk melakukan tur ini. Sebelum EP ini resmi dirilis, gua dan Fatrace merencanakan tur ke 2 Kota yakni, Solo dan Bali. Namun Solo urung dilaksanakan karena venue yang di rencanakan sedang dalam renovasi dan pihak sana enggan untuk mencarikan venue baru. setelah usaha pendekatan beberapa kali dilakukan, hasil tak digubris. Mau gimana lagi? Fatrace bukan band besar dan lagunya gak enak, jadi kami gak bisa melakukan apa-apa lagi, hehe.

Berbeda dengan Bali, kami sangat beruntung bisa diberi kesempatan untuk bisa tampil di 2 tempat. Sebelumnya, kami hanya resmi untuk tampil di 1 tempat. Eko Ramone dari The Sneakers merubah itu semua. Dia memasukan nama Fatrace untuk tampil bersama di sebuah bar di Canggu. Akhirnya, kami resmi untuk menambah jadwal tampil 7 hari sebelum keberangkatan.

17 Februari 2016, Broadcast Bar.
Jadi pemberhentian pertama di Bali. Di apit oleh band-band keren lainnya, Fatrace gak bakal mau mengecewakan mas Eko selaku orang dibalik bisa nya kami main di tempat ini. 3 band sebelum kami yakni, Racun Timur Menggoda, Superstar Superfuck dan Airplane And The Stars membuka Bar dengan meriah. Sangat gila! musik mereka hampir masing-masing berbeda namun crowd tetap ramai. Dan ketika giliran itu datang kepada kami, sangat kaget, karena ini pertama kalinya kami main di Bali dan sambutan mereka sangat gila. Tampil sebelum band utama (The Sneakers), membuat gua pribadi agak sedikit nervous dan ingin segera menyelesaikan set agar teman-teman yang hadir bisa cepat melihat The Sneakers tampil. 25 menit yang tersedia hanya kami habiskan sekitar 17 menit dengan 9 lagu.

18 Februari, Twice Bar.
Saat kami sedang bersiap tampil di Broadcast Bar, datang berita mengejutkan dari pemilik instagram bernama @jrxsid yang juga pemilik dari Twice Bar. Dalam postingan instagramnya ia berkata bahwa Twice akan tutup. terkejut, karena kami gak tau bagaimana gigs besok yang akan dilangsungkan di Twice? apakah batal? Pertanyaan itu terjawab ketika mas Eko selaku mantan pegawai Twice yang berkata bahwa The Sneakers akan ikut berpartisipasi dalam acara besok dengan Fatrace. Berbeda dengan kata-kata mas Eko, pengelola Twice belum menurunkan pamflet acara hingga akhirnya jam 6 siang pamflet itu turun. Dalam acara itu kami berbagi panggung dengan Hasta La Vista, Monarchy Of Rose dan The Sneakers. Bahagia sudah pasti, karena salah satu mimpi untuk bermain di bar ini pun tercapai. Pasti sudah banyak yang tampil di bar ini. Bar yang menghasilkan banyak band bawah tanah di Bali. Fatrace dan gua pribadi sangat senang pernah bermain di tempat ini. Twice mungkin akan tutup, tapi semangat mereka untuk memberikan ruang kepada band-band kecil akan terus ada dan menyebar kepada setiap pelaku musik.

Yang paling berharga dalam pelaksanaan tur adalah, banyaknya teman yang kita dapat. Bisa kenal dengan teman-teman baru adalah suatu kebahagian tersendiri. Kami sangat senang bisa bertemu dengan teman-teman baru, teman-teman musisi hebat seperti mas Eko Ramone dan The Sneakers, dan teman-teman band lainnya. Banyak juga pelajaran yang di dapat. Setuju dengan perkataan mas Eko bahwa, "mungkin tempat ini kecil, tapi fun nya besar. Biarlah band yang besar tetap disana, dan kita disini sama-sama mencari ruang untuk musik kita sendiri". Karena goal dari bermain musik bukanlah berfoto diatas panggung dengan latar crowd penonton yang belum tentu juga kenal kalian, hehe. Gua lebih menyukai apa yang dilakukan oleh Jo Se Ho, komedian asal Korea Selatan yang melakukan fan meeting di Taiwan. Yang ia lakukan setelah acara selesai adalah memotret seluruh crowd dari tangkapan kameranya sendiri dan mencetak nya diatas kaos lalu memakainya di sebuah variety show, hehe. Kurang nyambung? ya itu gimana kalian aja menanggapinya hehehe.


Terimakasih Bali atas pengalaman dan ceritanya. Semoga bisa cepat kesana lagi. Dan semoga perlawanan terhadap penguasa yang rakus bisa mencapai kemenangan. Buat apa mereklamasi kalau hanya untuk demi menyerupai negara lain. Bali Tolak Reklamasi!

Farhan

Rabu, 03 Februari 2016

Berisik! Dan Sebuah Perubahan

Hay!

Beberapa waktu lalu, gua dan Fatrace akhirnya bisa mencicipi panggung pertama. Kesempatan itu datang dari sebuah acara studio gigs bernama, Berisik!. Acara yang digagas oleh frontman dari band Rejected Kids yakni Petir Saputra ini memasuki jilid ke-3. Bertemakan studio gigs, bukan berarti dapat mengalahkan semangat gigs pada umumnya. Terbukti dengan penampilan 10 band pada malam itu terasa sangat berbeda. Jika pada acara pada umumnya kita hanya mampu mendengar 2 lagu dari setiap penampil, aturan itu tak berlaku dalam acara ini. Hampir setiap band membawa lembar setlist masing – masing, dimana sedikit nya mereka membawakan 5 lagu.

Hal yang sangat gua suka dari acara ini adalah semangat dan kekompakan pendukung acara. Sesuatu yang belum gua temukan di tempat gua sendiri. Atau mungkin memang gua yang gak masuk dengan pergaulan disini? Entahlah, hehe. “Persamaan adalah omong kosong, setiap acara selalu menampilkan band yang sama, gak ada kesempatan untuk yang baru untuk muncul ke permukaan” petikan dari Petir yang sepertinya menjadi salah satu alasan kuat dibuatnya acara ini. Petir sendiri adalah frontman dari sebuah band punk rock bernama Rejected Kids. Band yang cukup banyak dikenal oleh para penikmat musik.


Membuat acara sendiri adalah cara yang tepat untuk membantu sebuah band baru untuk maju dan berkembang. Namun hal itu tidak bisa terlepas dari konsep acara tersebut. Jika kita mampu mengemasnya dengan baik, maka dampak positif yang diterima akan lebih banyak. Seperti apa yang dilakukan oleh Petir untuk membuat acara ini. Gua pribadi juga berharap agar bisa membuat acara seperti ini di tempat dimana gua tinggal. Karena konsep acara seperti ini harus di budidayakan, sehingga dapat melupakan konsep lama seperti contoh membuat acara dengan puluhan band yang berujung dengan tidak terkordinir dengan baik karena hanya menguntungkan beberapa pihak.

Acara seperti ini harus rutin dilaksanakan guna memberikan ruang kepada band – band baru untuk muncul ke permukaan. Dan itu semua kembali lagi kepada pihak band yang juga harus berkontribusi langsung kepada kolektif tersebut sehingga lebih banyak kolektif yang lahir dan tumbuh membangun skena nya secara mandiri.

Farhan.