Mulai bosan sama kata "hay" untuk pembukaan dalam tulisan. Tapi karena udah di tulis, yaudah, begitu aja.
Tulisan ini bakalan menjadi tulisan paling singkat. Lebih singkat jika dibandingkan dengan celana kakak-kakak gemeszh. Kok kakak-kakak ? Biasanya adik-adik lho? Kalo kamu berfikir kayak gitu, kamu lupa ya, ini kan tulisan saya. Jadi gak apa-apa dong ya? Hehe.
Menunggu itu memang bukan suatu hal yg baik untuk kehidupan. Siapapun, mulai dari mas Norman sampai The Rock pun mungkin gak suka dengan apa yang namanya menunggu. Tapi mau gimana lagi? Menunggu udah seperti matahari terik pas jam 12 siang, iya, panas. Menunggu seperti hal yang sudah lumrah. Ibarat pelajaran, menunggu itu adalah ilmu pasti. Pasti semua orang pernah merasakan apa yang di nama kan menunggu.
Ada 3 kategori menunggu, yang pertama adalah menunggu yang tiba-tiba, yang kedua adalah menunggu yang sudah terduga dan yang terakhir adalah menunggu/suudzon. Tipe menunggu yang tiba-tiba adalah menunggu yang gak pernah lo bayangkan sebelumnya. Tipe menunggu ini tuh seperti pdkt dengan gebetan yang berzodiak Aquarius, susah ditebak
Yang ketiga adalah, menunggu/suudzon. Ini mungkin yang sering dialamin sama temen-temen. Ada gak? Kalo gak, yaa berarti dialamin sama temen-temen, gua. Dalam pertemanan, teman nongkrong, pasti banyak yang pernah berprasangka buruk terhadap teman lainnya. Please, kita lagi gak ngomongin cinta atau game online. Kita juga gak ngomongin perbedaan lipstik 50ribu dengan lipstik 500ribu. Tapi, beneran, pasti kalian, atau, yaudah deh gua deh, pasti pernah berprasangka buruk dengan teman-teman yang kadang datang gak sesuai dengan jam yang sudah ditentukan(?) ngerti gak? Maksudnya, janji jam 4, lalu kita berprasangka buruk dengan mikir, "ah paling dia dateng telat, dari pada nunggu, mending gua telat juga dateng nya" Yang terjadi malah kebalikannya, teman lo yang jadinya nunggu lebih lama karena prasangka buruk lo, eh kita, eh yaudah deh gua lagi.
Untuk situasi apapun, menunggu itu bakalan bikin kita gak gaul, gak kekinian, gak muda, beda dan berbahaya. Entah lah, hanya waktu dan rongga-rongga udara malam yang mampu menafsirkan rasa ingin mengakui siapa dibalik topeng ultraman yang konon akan mencair menjadi kenangan hitam berlapis baja bernama, Lama. Satu lagi, menunggu adalah tentang bagaimana keenam senar gitar berpadu menjadi nada yang manis sebagaimana mimpi para penyulam kain emas di pelataran kuil tua.
Farhan.
