Hay!
Beberapa waktu lalu, gua dan Fatrace akhirnya bisa mencicipi panggung pertama. Kesempatan itu datang dari sebuah acara studio gigs bernama, Berisik!. Acara yang digagas oleh frontman dari band Rejected Kids yakni Petir Saputra ini memasuki jilid ke-3. Bertemakan studio gigs, bukan berarti dapat mengalahkan semangat gigs pada umumnya. Terbukti dengan penampilan 10 band pada malam itu terasa sangat berbeda. Jika pada acara pada umumnya kita hanya mampu mendengar 2 lagu dari setiap penampil, aturan itu tak berlaku dalam acara ini. Hampir setiap band membawa lembar setlist masing – masing, dimana sedikit nya mereka membawakan 5 lagu.
Hal yang sangat gua suka dari acara ini adalah semangat dan kekompakan pendukung acara. Sesuatu yang belum gua temukan di tempat gua sendiri. Atau mungkin memang gua yang gak masuk dengan pergaulan disini? Entahlah, hehe. “Persamaan adalah omong kosong, setiap acara selalu menampilkan band yang sama, gak ada kesempatan untuk yang baru untuk muncul ke permukaan” petikan dari Petir yang sepertinya menjadi salah satu alasan kuat dibuatnya acara ini. Petir sendiri adalah frontman dari sebuah band punk rock bernama Rejected Kids. Band yang cukup banyak dikenal oleh para penikmat musik.
Membuat acara sendiri adalah cara yang tepat untuk membantu sebuah band baru untuk maju dan berkembang. Namun hal itu tidak bisa terlepas dari konsep acara tersebut. Jika kita mampu mengemasnya dengan baik, maka dampak positif yang diterima akan lebih banyak. Seperti apa yang dilakukan oleh Petir untuk membuat acara ini. Gua pribadi juga berharap agar bisa membuat acara seperti ini di tempat dimana gua tinggal. Karena konsep acara seperti ini harus di budidayakan, sehingga dapat melupakan konsep lama seperti contoh membuat acara dengan puluhan band yang berujung dengan tidak terkordinir dengan baik karena hanya menguntungkan beberapa pihak.
Acara seperti ini harus rutin dilaksanakan guna memberikan ruang kepada band – band baru untuk muncul ke permukaan. Dan itu semua kembali lagi kepada pihak band yang juga harus berkontribusi langsung kepada kolektif tersebut sehingga lebih banyak kolektif yang lahir dan tumbuh membangun skena nya secara mandiri.
Farhan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar