Wanita muda itu bernama Fiwah.
Berasal jauh dari gegap gempita kehidupan ibukota. Fiwah positif melangkahkan kakinya untuk meneruskan petualangan pendidikannya di Jakarta, selepas menelan bangku sekolah menengah atas. Ia sangat sadar bahwa kehidupan di kota pasti berbeda dengan kehidupan yang biasa ia lewati. Dengan dasar itulah Fiwah mulai men-googling apa yang sedang nge-hits di ibukota. Ini bukan tanpa alasan, Fiwah tak mau menjadi sesuatu yang tak sadar fashion ketika memulai petualangannya di ibukota nanti. Smartphone adalah sesuatu hal yang dianggap penting bagi kehidupan di kota. Sadar akan hal tersebut, Fiwah menjual sepatu futsal milik tetangga nya demi membeli smartphone. Untuk melengkapi kebutuhan sandangnya, Fiwah membeli sepatu Dokmar (replika Dr. Marten) dari sebuah toko berbasis online.
Fiwah: Sis.. dokmar nya masih ready gak?
Mimin: masih sis.. free ongkir nich sampe besok..
*3 hari kemudian*
Fiwah: Sis! barangnya sudah mendarat nich, suka bingits dech.. makasih ya~
Singkat cerita, kini Fiwah telah menginjakan kaki nya di bumi Kopaja. Namanya telah terdaftar di salah satu perguruan tinggi catchy di pusat Jakarta. Karena ini kali pertama bagi seorang Fiwah menghirup udara ibukota, Fiwah menikmati seluk beluk Jakarta selama 3 hari. Hal ini juga bukan tanpa alasan, 3 hari berkeliling Jakarta bukan karena ia amat mencintai kota ini, tapi selama 3 hari itulah Fiwah kebingungan mencari alamat rumah sudara nya yang bersedia memberikan kamar gratis untuk Fiwah.
Setahun setelah mempelajari kebiasaan anak muda pada umumnya di kota, Fiwah mencoba hidup dalam hiruk pikuk kejam nya Jakarta. Pertemanan membawa Fiwah menjadi pribadi yang baru. Berbeda ketika Fiwah dahulu, dikenal sebagai wanita pendiam dan penuh inspirasi agak brilliant bagi beberapa sahabatnya. Menjadi penengah kala 2 kelompok di sekolahnya yang bertikai adalah salah satu portfolio tersendiri baginya. Fiwah juga menjadi pencetus sandal kroks sebagai sahabat kaki 2012 dan idenya ini sempat menuai banyak pujian khalayak tua. tak sedikit juga yang meramalkan bahwa Fiwah kelak menjadi sesuatu yang besar di kemudian hari.
Doa dan ramalan buta dari para petuah kini mulai terendus. Dengan bermodalkan sepatu dokmar dan rasa percaya diri yang meletup bagaikan popcorn, ia melesat bak petasan jangwe. Namanya kian nge-hits diantara cabe - cabe-an kampung sebelah kampusnya. Sepak terjang di kampusnya mulai diperhitungkan oleh rekan sejawat di kampus ia bernaung. Dalam hitungan setahun terakhir, Fiwah merubah style fesyen-nya. Hal ini terlihat dari looks nya yang lebih kearah androgini dengan sentuhan slengean ala cabe - cabe-an flanel. Kini, ia menjelma sebagai wanita seperapat gaul. Sesekali (memaksakan) menghisap lintingan tembakau. Tak lupa menahan batuk (akibat tembakau) demi menjaga harga diri di kehidupan sosialita malam para hardworker.
Namun, yang namanya hidup, pastilah menemukan kerikil bebatuan yang mencoba mengaburkan jalan. Pro kontra selalu dimuntahkan oleh beberapa orang yg mengenal Fiwah. Tak jarang ia dicibir tak berharga bagai bakwan warteg. Akan tetapi Fiwah memegang erat kalimat Novus Ordo Seclorum atau lebih dikenal dengan the show must go on.
Dalam percintaan, Fiwah menaruh hati pada pria yg dianggap nya memiliki kemiripan dengan Vince McMahon dalam tokoh di "Smack Down!". Kejar mengejar seonggoh cinta membuat Fiwah menjadi jumawa dan lupa daratan. Hal ini membuat usahanya dalam urusan cinta terbilang melempem. Cinta Fiwah seperti bertepuk sebelah tangan. Fiwah merasa "separuh aku" tak berlaku untuknya bagi sang pujaannya. Fiwah memilih untuk mundur untuk mempergaul dirinya. Ia selalu percaya bahwa karma berlaku, namun bagi yang laku (?).
Fiwah yang selalu merasa terlihat charming, selalu berharap suatu saat ia dapat bergaul dengan banyak teman yang memiliki kelas sosialita diatas rata - rata. Kehidupan Fiwah masih berlanjut hingga nanti. Mimpinya menjadi desainer terkemuka tak akan pernah lapuk walau Slipknot membuat album religi berbahasa Iran.
*kesamaan nama pada tokoh tanpa unsur kesengajaan
Farhan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar